ISLAM DAN MODERNISASI – Gerakan Modernisasi Dunia Islam

ISLAM DAN MODERNISASI

ISLAM DAN MODERNISASI

  • Pendahuluan (ISLAM DAN MODERNISASI)

Islam sebagai sebuah agama dan apa yang menjadi perannya saat ini, sudah barang tentu memilki kaitan yang erat dengan masa lampaunya yang panjang. Dalam sejarahnya islam memiliki peradaban yang maju dan makmur bahkan sempat menjadi kiblat peradaban dunia. Peradaban islam pernah mengalami puncak kejayannya pada masa Daulah Abbasiyah, hamper semua aspek kehidupan mengalami kemajuan yng sangat luar biasa. Saat itu perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi poros bagi kemajuan yang lain mengalami kemajuan yang luar biasa dengan terbentuknya madzhab-madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai hasil dari kebebasan berfikir , selain itu kemajuan ilmu pengetahuan juga ditandai dengan pendirian Bait al-Hikmnah sebagai pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan.[1]

ISLAM DAN MODERNISASI

Islam

Namun demikian, semua itu menjadi masa lalu yang sangat manis dikenang, bentengan masa peradaban islam yang memiliki masa keemasan akhirnya tumbang juga. Pada akhirnya masa keemasan mengalami kemunduran , kemunduran ini dilihat dari kekuasaan abbas tidak pernah berubah menjadi kemajuan. Bentangan masa yang disebut dengan zaman kemunduran daulah bani abbas ini sangatlah panjang. Montgomery Wart dalam bukunya “The Majesty that was islam ” ketika membahas empat masa dari zaman “kekuyasaan” Bani Abbas di Irak dan sekitarnya, sudah menyebut masa mutawakkil naik tahta (850) sampai masuknya kekuasaan Bani Buwaih ke dalam istrana Baghdad (945) dengan masa kemunduran, sampai kekuasaan mereka di Baghdad musnah di tangan pasukan Mongol Tatar (1258).[2]

Melihat islam pada masa kini, khususnya di Indonesia, islam masih berada dalam ketertingalan khususnya bila disandingkan dengan peradaban eropa yang menjadi kiblat peradaban pada saat ini. Ini merupakan salah satu fakta yang tidak terbantahkan, banyak yang menganggap bahwa factor yang menghambat akan kemajuan peradaban islam itu sendiri adalah dating dari tubuh islam sendiri. Banyak pihak yang mengatakan bahwa hal mendasar yang menjadi penghambat dari kemajuan lislam adalah dating dari kaum tradisionalis, terutama dari budaya pemikiran sunni yang banyak diikuti oleh mayoritas umat islam di Indonesia.

Namun sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar, walaupun pada faktanya banyak hal-hal atau kegiatan yang mengarahkan ke arah itu. Isu-isu perubahan dan perkembangan peradaban semakin ramai dibicarakan terutama oleh para aktivis yang memang telah memiliki idealisme untuk membangun peradaban mulia. Sosialisasi kembalinya peradaban Islam melalui berbagai event merupakan suatu hal yang penting mengingat angka umat Islam di dunia telah mencapai 1,5 milyar jiwa. Ditambah semakin derasnya arus penyebaran Islam yang terus-menerus meluas, bahkan hingga ke jantung Eropa dan Amerika. Diperkirakan hal ini akan terus mengalami peningkatan sesuai perkembangan zaman menuju neomodernisasi.[3]

Tetapi masalahnya, secara kualitas saat ini lebih dari 850 juta jiwa umat Islam masih berada di bawah garis kemiskinan. Umat Islam bukan saja miskin secara ekonomi tetapi juga dibidang lain, terkhusus ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak dapat dipungkiri jika umat Islam hingga detik ini masih pantas menyandang gelar sebagai kaum terbelakang di berbagai hal. Buktinya, umat Islam masih sangat bergantung pada produk-produk perindustrian orang-orang Barat. Salah satu Negara yang memiliki predikat perkembvangan yang cukup tinggi adalah Iran. Iran adalah sebuah Negara dengan penduduk mayoritas pemeluk madzhab Syi’ah, dalam tradisi keilmuan Syiah rasionalitas memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu tingkat perkembangan yang terjadi diIran sangatlah pesat karena dari proses rasionalisasi itu maka akan lahir suatu teori baru atau fakta baru yang mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya. Saat ini Iran merupakan sebuah negara yang memiliki tingkat perkembangan yang sangat pesat, terutama perkembangan dalam bidang keilmuan dan teknologi.[4] Bahkan kemajuan Iran tidak hanya terbatas pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan tetapi Iran juga memiliki pengarus politik yang sangat kuat di kancah dunia internasional.

Dalam perjalanan sejarah, peradaban Islam pernah memakmurkan sebagian bumi selama beberapa abad, hanya saja kemudian peradaban Islam melemah terutama ketika memasuki abad XIX M. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang kini dikuasai orang-orang Barat, sementara ilmu pengetahuan itu sendiri berawal dan bersumber dari peradaban Islam. Ironisnya, banyak umat Islam yang justru melupakan tanggungjawabnya untuk menuntut ilmu dan sibuk terbuai oleh kehidupan hedonis. Memasuki masa neomodernisasi, perlahan namun pasti peradaban Islam mulai bangkit, sebaliknya peradaban Barat semakin ditinggalkan penganutnya. Seperti yang kita ketahui sekarang ini negara-negara Barat mulai mengalami penurunan dalam berbagai bidang. Dan tidak jarang orang-orang Barat yang bertransmigrasi ke Benua Asia demi mencari pembaharuan. Banyak kalangan menyatakan bahwa era saat ini (abad 21) adalah era peradaban Asia. Sementara negara-negara Asia mayoritas berpenduduk Islam, dapat dikatakan bahwa semangat membangun peradaban Islam telah menemukan momentumnya.

Sebenarnya, kaum muslimin telah dijamin dalam al-qur’an, “engkau telah menjadi umat terbaik yang pernah dimunculkan untuk umat manusia, seraya menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan, dan yang percaya kepada tuhan” (Q.S. 3 : 110).orang yang benar-benar memperhatikan dan mengambil filosofinya dari ayat ini akan sangat faham bahwa islam memiliki peradaban yang sangat maju dan modern, hal itu telah dibuktikan oleh islam pada masa lampau dan kini saatnya isl;am membuktikan kembali.[5]

  • Globalisasi (ISLAM DAN MODERNISASI)

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang berarti universal (mendunia). Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk interaksi yang lain.
Globalisasi memiliki banyak definisi, salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Lodge (1991), mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Dengan pengertian ini globalisasi dikatakan bahwa masyarakat dunia hidup dalam era dimana kehidupan mereka sangat ditentukan oleh proses-proses global.[6]

Era globalisasi dewasa ini lebih dikarenakan atas jasa kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Barangkali peradaban manusia tidak akan menyatu secara total sehingga hanya ada satu peradaban di seluruh muka bumi ini kalau seandainya tidak ada kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Akan tetapi walaupun demikan, setiap tempat pasti mempunyai tuntutannya sendiri.

Globalisasi memiliki cirri-ciri tertentu, yaitu : Pertama, Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi, satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepatnya, sehingga memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. Kedua, Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization(WTO). Ketiga, Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, fim, musik, dan transmisi berita dan olahraga internasional). Saat ini kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beranekaragam budaya, misalnya dalam bidang fashion dan makanan. Ketiga, Meningkatknya masalah besama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional dan lain-lain.

Baca Juga :   Trend Baru Pendidikan Islam Di Indonesia

Ada tiga pendekatan yang sangat intensif membahas mengenai globalisasi, yaitu segi kebudayaan, segi ekonomi, dan segi politik. Segi yang paling menonjol terjadi dalam proses globalisasi dewasa ini adalah segi ekonomi yang ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pla denan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia.

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia, perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia, Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya.

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Hasilnya, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.

  • Modernisasi (ISLAM DAN MODERNISASI)

Kata modernisasi telah dipakai dalam bahasa Indonesia saat ini. Dalam masyarakat barat modernism mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan lain-lain, agar semua itu menjadi sesuai dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[7] sebenarnya dalam keilmuan islam sudah dikenal makna dari modernisasi akan tetapi islam mengenalnya dengan istilah “badi’” yaitu memunculkan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Modernisasi ditandai oleh kreatifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini. Modernisasi, khususnya yang terjadi di barat, merupakan hal yang tidak bias dihindarkan lagi. Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah terkenal, mengatakan bahwa modernisasi telah terjadi pada akhir abad ke lima belas masehi, ketioka orang barat “berterimakasih tidak kepada tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengaha”.[8]

Modernisasi adalah suatu proses transformasi kompleks dan merupakan perubahan budaya masyarakat pada segala aspek-aspeknya. Kompleksnya gejala ini tidak dapat dirumuskan dalam sebuah definisi tetap, tetapi secara umum dapat didefinisikan sebagai penerapan pengetahuan ilmiah kepada semua aktivitas, pada semua bidang kehidupan. Meningkat dan bertambahnya pengetahuan ilmiah adalah faktor penting dalam proses modernisasi. Modern atau kurang modern-nya masyarakat dapat dilihat dari lebih atau kurangnya penerapan pengetahuan dengan cara yang bertanggungjawab secara ilmiah. Ini tidak hanya mencakup pengetahuan teknik dan ekonomi saja, tetapi pengetahuan di segala bidang kehidupan Hal mendasar dalam proses modernisasi pada masyarakat adalah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern.

Moderenisasi memiliki orientasi atau arah perubahan, di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Pada dasarnya Modernisasi adalah sebuah kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan. Kata modernisasi digunakan untuk menunjukan perubahan kecenderungan yang dianutr oleh kelompok masyarakat pendukung suatu nilai-nilai tertentu. Misalnya masyarakat dari kehidupan yang dikuasaim oleh nilai-nilai agama dan seni pada kelompok masyarakat eropa di abad pertengahan, menjadi kecenderungan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai teori dan ekonomi sejak zaman renaissance sampai sekarang.dalam peralihan tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana member gambaran kehidupan yang mengubah sikap individu dan kelompok pendukung kebudayaan tertentu. Misalnya peralihan anggapan tentang api yang disucikan, yaitu mengubah perlakuan terhadap api yang sebelumnya dikaitkan kepada agama menjadi api yang berguna untuk keperluan sebagai sumber energi.[9]

Ada dua hal yang menjadi fokus modernisasi disini, yaitu modernisasi industry dan pemikiran.[10]

Modernisasi industry adalah pembangunan ekonomi melalui transformasi sumber daya dan kuantitas energi yang digunakan. Dunia sudah semakin dipersempit dan diperkecil oleh kemajuan-kemajuan teknologi khususnya industri, sehingga tidak ada satu bangsa pun dapat secara sempurna menghindari keterkenaan pengaruh-pengaruh yang dating dari bangsa lain

Adapun pengertian modernisasi pemikiran, yang paling dekat tentang modernisasi pemikiran, ialah pengertian yang identik dengan pengertian rasionalisasi. Jadi, modernisasi adalah rasionalisasi bukan westernisasi. Hal ini berarti modernisasi pemikiran adalah proses perombakan pola berfikir dan tata-kerja lama yang tidak akliyah(rasional), dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja baru yang akliyah. Pada wilayah ini penggunaan rasio merupakan hal yang sangat dominan. Dengan penggunaan rasio tersebut maka munculah penemuan-penemuan mutakhir dalam ilmu pengetahuan. Oleh karenanya sesuatu dapat disebut modern kalau ia bersifat rasional, ilmiah dan sesuai dengan hokum-hukum yang berlaku dalam alam.

  • Kesimpulan (ISLAM DAN MODERNISASI)

Islam memandang modernitas sebagai sebuah diskursus wacana pemikiran yang menarik dan mampu membangkitkan birahi intelektual untuk didiskusikan. Modernitas sebagai gerakan pembaharuan yang berawal di Eropa menawarkan cara pandang baru terhadap fenomena kebudayaan. Modernitas muncul sebagai sejarah penaklukan nilai-nilai lama abad pertengahan oleh nilai-nilai baru modernis. Kekuatan rasional digunakan untuk memecahkan segala persoalan kamanusiaan dan menguji kebenaran lain seperti wahyu dan mitos tradisional. Walhasil, islam dan modernisasi adalah dua hal yang harus terus berjalan saling berkesinambungan.

[1] Latiful Khuluq, Sejarah peradaban islam dari masa klasik hingga modern, Yogyakarta : Penerbit LESFI, 2009, hlm. 97.

[2] Machasin, Sejarah peradaban islam dari masa klasik hingga modern, Yogyakarta : Penerbit LESFI, 2009, hlm. 109.

[3] http://iqrozen.blogspot.com/2012/04/sinyal-kebangkitan-peradaban-islam.html. 19-12-2013/ 20.30.

[4] Mahmud Ahmadinejad, Manifestasi Identritas Iran di New York, ter. Purkon, amin, Habibie, Iwan, Heri, Yusuf, Iran : Penerbit International Yunion of Muslim University Student, 2008, hlm. 79.

[5] Marshal G. S. Hodghson, The Venture of Islam, Jakarta : Penerbit Paramadina, 2002, hlm. 99.

[6] http://infosos.wordpress.com/kelas-xii-ips/modernisasi-dan-globalisasi/. 19-12-2013/ 20-36.

[7] Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung : Penerbit Mizan, 1996, hlm. 181.

[8] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin & Peradaban, Jakarta : Penerbit Paramnadina, 2005, hlm.450.

[9] Sutan Takdir Alisjahbana, Sang Pujangga, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006, hlm. 134.

[10] Nurcholis Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung : Penerbit Mizan, 2008, hlm. 177.

Advertisement
ISLAM DAN MODERNISASI – Gerakan Modernisasi Dunia Islam | sadunku | 4.5

Tinggalkan Komentar atau Tanya Disini: